Pada pertemuan kelima hari ini menjadi amat spesial karena bertemakan dengan "Menulis Semudah Ceplok Telur". Pastinya didalam benak kita terlintas tentang proses bagaimana seseorang menceplok telur dengan hitungan menit saja. Nah, sepeeri itulah kemungkinan yang akan di bahas dalam pertemuan yang luar biasa ini.
Mari kita simak..
Narasumber yang memiliki hobi membaca, menulis, traveling, dan berenang ini sangat begitu aktif dan produktif. Mengenyam lendidikan terakhir program Sarjana S1, FKIPS Jurusan PMP/Kn di IKIP PGRI Surabaya dan program Sarjana S1, Fakultas Hukum, Jurusan Ilmu Hukum di Universitas Wijaya Putra Surabaya ini merupakan penggiat literasi Nusantara, dan seorang motivator menulis buku. Juga, merupakan founder KELAS WAG MBI (Kelas WhatsAap Group Menulis Buku Inspirasi) yang bertujuan sebagai wadah bagi penulis pemula belajar menulis pasti menjadi buku.
Kali ini pembahasan kelas nya begitu berkaitan dengan realita dimana menulis begitu amat mudah untuk dilakukan yang dibawakan oleh Dra. Lilis Ika Herpianti, S.H.
Mari kita simak pembahasan mendalam yang begitu luar biasa...
Diawali dengan lagu Anak Flambora menghantarkan kita pada pembuka kelas hari ini. Narasumber sangat lihai dalam membuka kelas, ia membuka dengan narasi-narasi karya tulis yang ia buat sebagai bukti nyata bahwa ia telah mengaplikasikan kiat menulis semudah ceplok telur.
1. Mengapa Harus Menulis?
"Jika kamu bungan anak Raja maka menulislah"
Quote yang amat berarti bagi narasumber sehingga membuat para peserta di kelas dapat termotivasi untuk terus menulis. Namun mengapa harus menulis? lalu bagaimana jawabannya?
Seperti yang ditulis oleh Nur Afifah (28 Juni 2021) menguraikan landasan mengapa kita harus menulis.
Imam Asy-syabi berkata, " Apabila engkau melanggar sesuatu, maka tulislah sekali pun di tembok"
Maka perinta tentang menulis sudah ada sejak dahuku kala dimana diperintahkan untuk menulis sekalipun diatas tembok. Lanjutnya, beliau menjelaskan bahwa "Ilmu adalah buruan dan tulisan adalah ikatannya. Ikatlah buruanmu dengan tali yang kuat. Termasuk kebodohan kalau engkau memburu kijang. Setelah ini kamu tinggal terlepas begitu saja"
Sebagaimana beberapa kalimat yang dijelaskan bahwa ilmu disini digambarkan sebagai hewan buruan yang akan hilang atau tidak akan pernah diingat karena daya ingat makhluk yang terbatas.
Sedangkan menurut hadist: Qoyyidul'ilma bilkitabi (Jagalah ilmu dengan menulis)
Menjaga ilmu dengan tulisan menjadi hal yang penting dan jawaban dari poin "Mengapa Harus Menulis"
2. Kiat Menulis Semudah Ceplok Telur
Kiat ini diambil melalui intisari atau penggambaran dari salah satu buku berjudul Kisah Sebatang Pensil karya Paulo Coelho.
a. Pensil digerakan oleh tangan manusia
Mulailah dengan berdoa sebelum menulis sehingga keadaan raga dan jiwa selalu siap meskipun menulis dengan pensil atau mencoba mengetik di depan komputer atau handphone.
b. Ketika pensil tumpul, maka runcingkanlah
Ketika ada hambata, tajamkanlah pikiran kita melalu bacaan-bacaan buku yang berkaitan maupun buku bacaan lain. Karena sesungguhnya ide muncul dari apapun.
c. Penghapus sebagai alat perbaikan tulisan
Tulis dan tuangkan lah seluruh ide yang diberikan, beri batasan waktu untuk mengecek hingga akhirnya penghapus menjadi hal sebagai alat perbaikan tulisan.
d. Menggunakan pensil bagian dalamnya
Tulislah dari hati yang akan membuat para pembaca terkesima terhadap tulisan kita.
e. Setiap tulisan akan berdampak bagi seluruh pembaca
Tinggalkanlah jejak yang membuat para pembaca ingin selalu membaca tulisan kita.
Melalui pembahasan hari ini saya mendapatkan hal yang perlu diteladani yaitu percaya diri terhadap apa yang dimiliki. Selain materinya yang unik, ternyata pembawaan narasumber dalam menyampaikan materi memiliki keunikan tersendiri sehingga tidak terasa bahwa malam ini sedang berada di kelas menulis. Selain itu, tidak hanya contoh dari karya narasumber saja namun narasumber memberikan contoh dari tulisan orang-orang hebat yang dikemas menjadi menarik.
Comments
Post a Comment